SPIRITUALITAS
PEMIMPIN KRISTEN
Pemimpin adalah seorang yang
mengepalai seorang dan tentunya seorang yang bekerja keras dalam mengelola apa
yang sedang ia pimpin sebagai contoh kita bisa lihat yaitu seorang Komandan
tentara yang terus bekerja tampa ada hentinya dalam mengontrol dari kerja dari
bawahannya. Hal yang sama juga berlaku bagi seorang pemimpin Kristen dalam
bagaiman ia memiliki spiritualitas yang baik.
Berbicara mengenai spiritualitas itu
berarti berbicara mengenai kualitas keimanan seseorang dalam relasinya dengan
Tuhan. Seorang pemimpin haruslah seorang yang rohani. Masalahnya adalah apakah ciri orang yang disebut “rohani
itu”. Dalam teks bahasa Yunani kata ini
diterjemahkan “pneumatikos”. Lawan kata rohani adalah duniawi (Yun.Epigeios) atau kedagingan yang dalam
teks Yunaninya adalah “sarkos’. Duniawi adalah segala sesuatu yang berorientasi
pada kekayaan dunia (material thing), kedagingan adalah segala sesuatu yang
berorientasi pada kepuasan nafsu rendah kedagingan (Ing. lust)
Rohani dari kata “roh”. Rohani berarti hal-hal yang bersangkut paut
dengan roh atau batiniah seseorang. Kalau dikatakan bahwa seorang pemimpin
harus rohani maka itu berarti seorang pemimpin harus memiliki batiniah yang
baik dalam hubungannya dengan Tuhan.
Seorang pemimpin hendaknya
senantiasa bersedia dikoreksi oleh Tuhan, agar menjadi pemimpin yang memiliki
manusia batiniah yang berkenan dihadapan Tuhan. Untuk itu dituntut pula hati yang tulus dan jujur. Tuhan yang
mengenal setiap individu secara lengkap dan sempurna lebih dari seseorang
mengenal diri sendiri akan membuka mata rohani seorang pemimpin untuk mengenal
diri sendiri. Selanjutnya, Roh Kudus akan menolong seorang pemimpin untuk
mengenal dirinya sendiri terus menerus dengan benar dari hari ke hari sesuai
dengan apa yang Tuhan hendak singkapkan mengenai keadaan dirinya. Dalam hal ini
perlu dipahami bahwa pengenalan seseorang terhadap diri kita sendiri bertumbuh
seiring dengan pengenalan akan Allah dan kedewasaan rohani dalam menerima diri
sendiri.
Apa yang dapat dilihat dan didengar
dari sikap seseorang secara lahiriah adalah manifestasi apa yang ada di dalam
manusia. Tubuh manusia adalah peragaan nyata dari keadaan batiniah seseorang.
Sumber perbuatan manusia adalah manusia batiniahnya. Oleh karena gerak luar
manusia ditentukan oleh sikap batiniahnya atau kemampuan manusia batiniahnya,
maka adalah penting untuk memperhatikan "sumber". Sebab sumber yang
baik akan mengalirkan air yang baik pula (Mat 7:16-20). Manusia batiniah inilah
"sumber" itu.
Allah memberi potensi pada manusia
batiniah agar berkenan kepada-Nya (Yer 31:33; Yehez 11:19; Ef 3:16). Potensi
inilah yang memberi kemungkinan kepada seseorang yang telah lahir baru untuk
mengembangkan benih ilahi yang Allah taruh di dalam diri manusia. Potensi ini
juga yang akan membawa seseorang kepada
kehidupan sebagai putra-putra Allah yang Maha Tinggi. Pertumbuhan benih ilahi
atau "makin pantasnya" menjadi putra-putra Allah yang Maha Tinggi
tergantung respon seseorang setiap hari terhadap anugerah Allah, yaitu
Firman-Nya dan pembentukan-Nya.
Dalam 2 Korintus 4:16, dikemukakan
bahwa pembaharuan hidup adalah pembaharuan manusia batiniah. Hal ini terjadi
melalui berbagai pengalaman hidup. Pencobaan dan berbagai pergumulan lain dalam
hidup hendak membawa kepada sikap batin
yang benar. Dan sikap batin yang benar adalah "mengasihi Allah".
(Roma 8:28). Pergumulan tersebut membuka mata hati seorang pemimpin mengasihi Tuhan, merindukan dan menyenangkan
hati-Nya. Pergumulan hidup menghadapi pencobaan, penyangkalan diri dan lain
sebagainya sebenarnya hanya hendak memberikan kepada seorang pemimpin "hati
yang mengasihi Tuhan".
Proses pembaharuan manusia batiniah
inilah yang dapat diidentifikasikan sebagai "peremukan diri". Inilah proses mematikan daging dan membiarkan
Allah mendominasi kehidupan seorang pemimpin, yang akhirnya ia makin bisa
berkata " hidupku bukan aku lagi" (Galatia 2:20).
Tuhan Yesus bergumul di taman
Getsemani merupakan contoh nyata dari pergumulan peremukan itu. Getsemani kata
ini dari bahasa Ibrani "gat" yang artinya alat pemeras dan
"syemani" yaitu zaitun. Getsemani artinya alat memeras zaitun. Buah
zaitun adalah buah yang keras tetapi memiliki banyak manfaat. Buah zaitun tidak
akan berarti sebelum diremukkan. Hidup seorang pemimpin tidak akan berarti bagi
orang lain kalau belum diremukkan. Peremukan inilah yang membawa seorang pemimpin
kepada pengakuan "bukan kehendakku ya Bapa tetapi kehendakMulah yang
jadi".
Untuk menanggulangi
"diri atau si aku" ini Tuhan memakai berbagai pengalaman hidup.
Pembentukan manusia batiniah ini tidaklah cukup dengan pendidikan moral,
nasihat-nasihat budi pekerti atau ajaran-ajaran agama yang selama ini
ditawarkan. Dan Tuhan sangat cakap
menciptakan segala situasi untuk menghancurkan "diri atau si aku"
tersebut agar manusia batiniah seorang pemimpin bertumbuh. Oleh sebab itu
setiap kali seorang pemimpin mengalami suatu kejadian, hendaknya ia dapat
menemukan dalam hal mana Tuhan hendak menggarapnya. Mungkin kesombongannya,
emosi yang tak terkontrol, perasaan yang mudah tersinggung dan lain-lain.
Seorang yang melewati proses
peremukan diri ini akan menjadi sangat efektif bagi Tuhan. Allah akan dapat
membuat mereka layak menjadi kawan
sekerja-Nya. Sebab orang-orang seperti ini adalah orang yang tidak lagi memikirkan diri sendiri
(2Timotius 2:3-4), ia tidak egois dan egosentris.
Pemimpin yang telah diremukkan
adalah pribadi yang peka dengan suara Tuhan sehingga ia tahu apa yang Tuhan
kehendaki bagi umat-Nya. Pemimpin-pemimpin seperti ini dapat menjadi saluran berkat bagi banyak
orang. Ucapan-Nya adalah ucapan Allah sendiri. Pikirannya adalah pikiran Tuhan.
Ia tidak pernah memiliki visi, sebab semua visinya adalah visi dari Tuhan. Ia
menjadi alat dimana Allah menyalurkan perasaan, pikiran dan kehendak-Nya. Oleh
karenanya kata-katanya akan menjamah orang lain. Ucapan yang keluar dari
mulutnya akan menyentuh orang lain sedemikian kuat.
Peremukan akan membuat seorang
pemimpin peka dengan kebutuhan orang lain. Ia sangat memperdulikan kebutuhan
orang lain. Ia cepat menangkap kebutuhan orang lain dan ringan tangan untuk
berbuat sesuatu. Peremukan inilah yang menjadikan seseorang rendah hati dan tulus. Ketulusan inilah yang
membuat orang lain disekitarnya merasa teduh, sebab orang-orang disekitarnya
merasa bahwa ia tidak membahayakan.
Kesucian
Hidup
Dalam
bagian ini tentunya seorang pemimpin harus memiliki kesucian dalam hidupnya.
Pada akhirnya upaya pemimpin untuk
mencapai hidup yang suci bukanlah berfokus kepada hukum tetapi Tuhan. Tuhan
disini adalah pribadi-Nya. Upaya untuk hidup suci bukanlah dalam wujud
mempelajari hukum-hukum, meneliti dan mencoba menafsirkan seakurat atau setepat
mungkin, kemudian disusul dengan pertarakkan diri sebagai usaha untuk
mengenakannya. Bila jalan ini (mempelajari hukum-hukum, meneliti dan mencoba
menafsirkan seakurat atau setepat mungkin, kemudian disusul dengan pertarakkan
diri sebagai usaha untuk mengenakannya) adalah mekanismenya maka bila seseorang
mampu melakukan hukum Tuhan maka ia dapat menjadi sombong, arogan dihadapan
Tuhan apalagi di hadapan manusia. Inilah yang dapat di jumpai dalam kehidupan
beberapa pemimpin Kristen hari ini. Juga beberapa hamba Tuhan yang tidak
mengenal kebenaran Kristen yang batiniah.
Dalam hal ini bukan berarti hukum
dan penyangkalan diri tidak perlu. Hukum
Tuhan diajarkan untuk menjadi “mentor sementara” semasa seseorang masih belum akil balik. Di
dalam hukum-Nya dapat ditemukan pikiran
dan perasaan Tuhan secara tertulis. Tetapi apa yang tertulis belum mewakili
segala hal yang Tuhan kehendaki secara lengkap. Hukum hanya menjadi alat
sementara, bukan tujuan. Tujuan kesucian adalah “isi hati Tuhan”. Penyangkalan
diri diperlukan terus menerus. Penyangkalan diri adalah sikap hidup yang
berkata “tidak” bagi kehendak diri sendiri dan “ya” bagi kehendak Allah. Inilah
proses singkronisasi atau penyesuaian. Bukan kehendak-Nya menyesuaikan diri
kepada kehendak manusia, tetapi
kehendak manusia disesuaikan kepada kehendak-Nya.
Kehendak Allah disini bukan saja
melakukan hukum-hukum-Nya, tetapi seluruh kehendak dan rencana-Nya. Kesucian
hidup bukan hanya ditandai dengan “tidak melanggar hukum”, tetapi aktif untuk
bertindak apa yang menjadi berkat bagi orang lain. Alkitab berkata kalau seseorang “tahu apa
yang baik” tetapi tidak melakukan
berarti telah berdosa Yakobus 4:17,
konteksnya bukan masalah hukum tetapi
melibatkan Tuhan dalam perencanaan, yaitu apa yang Tuhan kehendaki. Pergumulan hidup suci pada akhirnya adalah
pergumulan mengenal Tuhan, yaitu pribadi-Nya dan seluruh kehendak-Nya.
Pribadi Tuhan disini menyangkut
kehendak-Nya. Menerapkan hukum bukanlah tujuan kesucian hidup. Hukum adalah
alat bukan tujuan. Sebab bila bertindak demikian, yaitu menjadikan hukum adalah
tujuan maka ke-Kristenan tidak berbeda dengan pola agama-agama pada umumnya. Keselamatan orang percaya adalah karena
"anugerah" bukan karena hasil perbuatan baik. Perbuatan baik adalah
buah dari keselamatan itu.
Dalam proses pendewasaan akhirnya
Tuhanlah yang menjadi hukumnya. Seseorang tidak dibayang-bayangi oleh hukum
yang menakutkan dan mengancam tetapi dengan sukacita dan kegemaran melakukan
hukum, sebab hukum Tuhan dan kehendak-Nya menjadi irama hidup secara
otomatis. Inilah baru dapat
dikatakan kesucian yang sesungguhnya. Tentu untuk proses ini membutuhkan waktu
panjang. Kesucian
bukan “tidak berdosa”, tetapi tidak
bisa berbuat dosa lagi. Kesucian
hidup bukan hanya tidak melanggar hukum
moral yang tertulis tetapi juga melaksanakan semua kehendak dan rencana-Nya.
Kesimpulan
Seorang pemimpin yang miliki
spiritual dapat mempengaruhi setiap orang dalam memberikan nasehat atau suatu
metode belajar, sehingga dapat terinspirasi dari orang yang ia pimpin.
No comments:
Post a Comment