Wednesday, November 14, 2018

SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN


SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN

Pemimpin adalah seorang yang mengepalai seorang dan tentunya seorang yang bekerja keras dalam mengelola apa yang sedang ia pimpin sebagai contoh kita bisa lihat yaitu seorang Komandan tentara yang terus bekerja tampa ada hentinya dalam mengontrol dari kerja dari bawahannya. Hal yang sama juga berlaku bagi seorang pemimpin Kristen dalam bagaiman ia memiliki spiritualitas yang baik.

Berbicara mengenai spiritualitas itu berarti berbicara mengenai kualitas keimanan seseorang dalam relasinya dengan Tuhan. Seorang pemimpin haruslah seorang yang rohani. Masalahnya  adalah apakah ciri orang yang disebut “rohani itu”.  Dalam teks bahasa Yunani kata ini diterjemahkan “pneumatikos”. Lawan kata rohani adalah duniawi  (Yun.Epigeios) atau kedagingan yang dalam teks Yunaninya adalah “sarkos’. Duniawi adalah segala sesuatu yang berorientasi pada kekayaan dunia (material thing), kedagingan adalah segala sesuatu yang berorientasi pada kepuasan nafsu rendah kedagingan (Ing. lust)
Rohani dari kata “roh”.  Rohani berarti hal-hal yang bersangkut paut dengan roh atau batiniah seseorang. Kalau dikatakan bahwa seorang pemimpin harus rohani maka itu berarti seorang pemimpin harus memiliki batiniah yang baik dalam hubungannya dengan Tuhan.


Seorang pemimpin hendaknya senantiasa bersedia dikoreksi oleh Tuhan, agar menjadi pemimpin yang memiliki manusia batiniah yang berkenan dihadapan Tuhan. Untuk itu dituntut pula  hati yang tulus dan jujur. Tuhan yang mengenal setiap individu secara lengkap dan sempurna lebih dari seseorang mengenal diri sendiri akan membuka mata rohani seorang pemimpin untuk mengenal diri sendiri. Selanjutnya, Roh Kudus akan menolong seorang pemimpin untuk mengenal dirinya sendiri terus menerus dengan benar dari hari ke hari sesuai dengan apa yang Tuhan hendak singkapkan mengenai keadaan dirinya. Dalam hal ini perlu dipahami bahwa pengenalan seseorang terhadap diri kita sendiri bertumbuh seiring dengan pengenalan akan Allah dan kedewasaan rohani dalam menerima diri sendiri.

Apa yang dapat dilihat dan didengar dari sikap seseorang secara lahiriah adalah manifestasi apa yang ada di dalam manusia. Tubuh manusia adalah peragaan nyata dari keadaan batiniah seseorang. Sumber perbuatan manusia adalah manusia batiniahnya. Oleh karena gerak luar manusia ditentukan oleh sikap batiniahnya atau kemampuan manusia batiniahnya, maka adalah penting untuk memperhatikan "sumber". Sebab sumber yang baik akan mengalirkan air yang baik pula (Mat 7:16-20). Manusia batiniah inilah "sumber" itu.
Allah memberi potensi pada manusia batiniah agar berkenan kepada-Nya (Yer 31:33; Yehez 11:19; Ef 3:16). Potensi inilah yang memberi kemungkinan kepada seseorang yang telah lahir baru untuk mengembangkan benih ilahi yang Allah taruh di dalam diri manusia. Potensi ini juga  yang akan membawa seseorang kepada kehidupan sebagai putra-putra Allah yang Maha Tinggi. Pertumbuhan benih ilahi atau "makin pantasnya" menjadi putra-putra Allah yang Maha Tinggi tergantung respon seseorang setiap hari terhadap anugerah Allah, yaitu Firman-Nya dan pembentukan-Nya.

Dalam 2 Korintus 4:16, dikemukakan bahwa pembaharuan hidup adalah pembaharuan manusia batiniah. Hal ini terjadi melalui berbagai pengalaman hidup. Pencobaan dan berbagai pergumulan lain dalam hidup hendak membawa  kepada sikap batin yang benar. Dan sikap batin yang benar adalah "mengasihi Allah". (Roma 8:28). Pergumulan tersebut membuka mata hati seorang pemimpin  mengasihi Tuhan, merindukan dan menyenangkan hati-Nya. Pergumulan hidup menghadapi pencobaan, penyangkalan diri dan lain sebagainya sebenarnya hanya hendak memberikan kepada seorang pemimpin "hati yang mengasihi Tuhan".
Proses pembaharuan manusia batiniah inilah yang dapat diidentifikasikan sebagai "peremukan diri".  Inilah proses mematikan daging dan membiarkan Allah mendominasi kehidupan seorang pemimpin, yang akhirnya ia makin bisa berkata " hidupku bukan aku lagi" (Galatia 2:20).
Tuhan Yesus bergumul di taman Getsemani merupakan contoh nyata dari pergumulan peremukan itu. Getsemani kata ini dari bahasa Ibrani "gat" yang artinya alat pemeras dan "syemani" yaitu zaitun. Getsemani artinya alat memeras zaitun. Buah zaitun adalah buah yang keras tetapi memiliki banyak manfaat. Buah zaitun tidak akan berarti sebelum diremukkan. Hidup seorang pemimpin tidak akan berarti bagi orang lain kalau belum diremukkan. Peremukan inilah yang membawa seorang pemimpin kepada pengakuan "bukan kehendakku ya Bapa tetapi kehendakMulah yang jadi".
Untuk menanggulangi "diri atau si aku" ini Tuhan memakai berbagai pengalaman hidup. Pembentukan manusia batiniah ini tidaklah cukup dengan pendidikan moral, nasihat-nasihat budi pekerti atau ajaran-ajaran agama yang selama ini ditawarkan.  Dan Tuhan sangat cakap menciptakan segala situasi untuk menghancurkan "diri atau si aku" tersebut agar manusia batiniah seorang pemimpin bertumbuh. Oleh sebab itu setiap kali seorang pemimpin mengalami suatu kejadian, hendaknya ia dapat menemukan dalam hal mana Tuhan hendak menggarapnya. Mungkin kesombongannya, emosi yang tak terkontrol, perasaan yang mudah tersinggung dan lain-lain.
Seorang yang melewati proses peremukan diri ini akan menjadi sangat efektif bagi Tuhan. Allah akan dapat membuat  mereka layak menjadi kawan sekerja-Nya. Sebab orang-orang seperti ini adalah  orang yang tidak lagi memikirkan diri sendiri (2Timotius 2:3-4), ia tidak egois dan egosentris.
Pemimpin yang telah diremukkan adalah pribadi yang peka dengan suara Tuhan sehingga ia tahu apa yang Tuhan kehendaki bagi umat-Nya. Pemimpin-pemimpin seperti  ini dapat menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Ucapan-Nya adalah ucapan Allah sendiri. Pikirannya adalah pikiran Tuhan. Ia tidak pernah memiliki visi, sebab semua visinya adalah visi dari Tuhan. Ia menjadi alat dimana Allah menyalurkan perasaan, pikiran dan kehendak-Nya. Oleh karenanya kata-katanya akan menjamah orang lain. Ucapan yang keluar dari mulutnya akan menyentuh orang lain sedemikian kuat.
Peremukan akan membuat seorang pemimpin peka dengan kebutuhan orang lain. Ia sangat memperdulikan kebutuhan orang lain. Ia cepat menangkap kebutuhan orang lain dan ringan tangan untuk berbuat sesuatu. Peremukan inilah yang menjadikan seseorang  rendah hati dan tulus. Ketulusan inilah yang membuat orang lain disekitarnya merasa teduh, sebab orang-orang disekitarnya merasa bahwa  ia tidak membahayakan.

Kesucian Hidup
Dalam bagian ini tentunya seorang pemimpin harus memiliki kesucian dalam hidupnya. Pada akhirnya upaya pemimpin  untuk mencapai hidup yang suci bukanlah berfokus kepada hukum tetapi Tuhan. Tuhan disini adalah pribadi-Nya. Upaya untuk hidup suci bukanlah dalam wujud mempelajari hukum-hukum, meneliti dan mencoba menafsirkan seakurat atau setepat mungkin, kemudian disusul dengan pertarakkan diri sebagai usaha untuk mengenakannya. Bila jalan ini (mempelajari hukum-hukum, meneliti dan mencoba menafsirkan seakurat atau setepat mungkin, kemudian disusul dengan pertarakkan diri sebagai usaha untuk mengenakannya) adalah mekanismenya maka bila seseorang mampu melakukan hukum Tuhan maka ia dapat menjadi sombong, arogan dihadapan Tuhan apalagi di hadapan manusia. Inilah yang dapat di jumpai dalam kehidupan beberapa pemimpin Kristen hari ini. Juga beberapa hamba Tuhan yang tidak mengenal kebenaran Kristen yang batiniah.
Dalam hal ini bukan berarti hukum dan penyangkalan diri tidak perlu.  Hukum Tuhan diajarkan untuk menjadi “mentor sementara”  semasa seseorang masih belum akil balik. Di dalam hukum-Nya  dapat ditemukan pikiran dan perasaan Tuhan secara tertulis. Tetapi apa yang tertulis belum mewakili segala hal yang Tuhan kehendaki secara lengkap. Hukum hanya menjadi alat sementara, bukan tujuan. Tujuan kesucian adalah “isi hati Tuhan”. Penyangkalan diri diperlukan terus menerus. Penyangkalan diri adalah sikap hidup yang berkata “tidak” bagi kehendak diri sendiri dan “ya” bagi kehendak Allah. Inilah proses singkronisasi atau penyesuaian. Bukan kehendak-Nya menyesuaikan diri kepada kehendak manusia, tetapi   kehendak manusia disesuaikan kepada kehendak-Nya.
Kehendak Allah disini bukan saja melakukan hukum-hukum-Nya, tetapi seluruh kehendak dan rencana-Nya. Kesucian hidup bukan hanya ditandai dengan “tidak melanggar hukum”, tetapi aktif untuk bertindak apa yang menjadi berkat bagi orang lain.  Alkitab berkata kalau seseorang “tahu apa yang baik” tetapi  tidak melakukan berarti telah berdosa  Yakobus 4:17, konteksnya  bukan masalah hukum tetapi melibatkan Tuhan dalam perencanaan, yaitu apa yang Tuhan kehendaki.  Pergumulan hidup suci pada akhirnya adalah pergumulan mengenal Tuhan, yaitu pribadi-Nya dan seluruh kehendak-Nya.
Pribadi Tuhan disini menyangkut kehendak-Nya. Menerapkan hukum bukanlah tujuan kesucian hidup. Hukum adalah alat bukan tujuan. Sebab bila bertindak demikian, yaitu menjadikan hukum adalah tujuan maka ke-Kristenan tidak berbeda dengan pola agama-agama pada umumnya.  Keselamatan orang percaya adalah karena "anugerah" bukan karena hasil perbuatan baik. Perbuatan baik adalah buah dari keselamatan itu.
Dalam proses pendewasaan akhirnya Tuhanlah yang menjadi hukumnya. Seseorang tidak dibayang-bayangi oleh hukum yang menakutkan dan mengancam tetapi dengan sukacita dan kegemaran melakukan hukum, sebab hukum Tuhan dan kehendak-Nya menjadi irama hidup  secara  otomatis. Inilah  baru dapat dikatakan kesucian yang sesungguhnya. Tentu untuk proses ini membutuhkan waktu panjang. Kesucian bukan “tidak berdosa”, tetapi tidak   bisa berbuat dosa lagi.  Kesucian hidup  bukan hanya tidak melanggar hukum moral yang tertulis tetapi juga melaksanakan semua kehendak dan rencana-Nya.

Kesimpulan 
Seorang pemimpin yang miliki spiritual dapat mempengaruhi setiap orang dalam memberikan nasehat atau suatu metode belajar, sehingga dapat terinspirasi dari orang yang ia pimpin.

Saturday, October 20, 2018

PENTINGNYA IBADAH


Pentingnya kita mempelajari perjanjian lama, kita semua mengetahui bahwa Alkitab adalah wahyu yang progresif, jadi Tanpa Perjanjian Lama, kita tidak dapat memahami adat istiadat orang-orang Yahudi yang hanya disebutkan dalam Perjanjian Baru. Kita tidak akan dapat memahami pemutarbalikan yang dilakukan orang-orang Farisi terhadap hukum Allah saat mereka menambahkan kebiasaan mereka sendiri pada hukum itu. Tanpa Perjanjian Lama, kita akan kehilangan berbagai nubuat yang hanya dapat digenapi kalau Alkitab adalah Firman Allah, dan bukan dari manusia.
Dalam hal ini kami akan membahas materi tentang konsep ibadah dalam perjanjian lama. Kalau kami melihat dari segi latar belakang kata (ibadah). “Definisi menurut KBBI, Ibadah merupakan salah satu perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (ibadat)[1]. Berarti ibadah berbicara mengenai sikap orang percaya untuk merendahkan diri dan menghormati Tuhan dalam persekutuan dengannya, Alkitab dengan tegas berkata bahwa “Saudara-saudari, oleh karena kita sudah menjadi warga kerajaan Allah yang tidak bisa diguncangkan, jadi hendaklah kita bersyukur kepada-Nya.
Calvin, mengatakan bahwa Allah tidak memerintahkan orang mempersembahkan kurban supaya pemuja-pemuja-Nya sibuk dengan tugas-tugas duniawi. Sebaliknya, hal-hal dilakukan-Nya agar pikiran mereka memikirkan hal-hal yang lebih mulia. Hal ini dapat dilihat dengan jelas dari sifat-Nya sendiri; karena sifat-Nya rohani, maka hanya ibadah rohanilah yang menyukakan hari-hari-Nya.[2]
Karena itu marilah kita menyenangkan hati Allah dengan menyembah Dia dengan penuh rasa takut dan hormat karena tentang Allah kita Kitab Suci menuliskan, Allah kita “bagaikan api yang menghanguskan segala sesuatu yang tidak sempurna.”(Ibr 12:28-29). Karena itu pentingnya kita dalam melaksanakan ibadah dengan tertib dan sopan  agar ibadah kita diberkati oleh Tuhan Yesus Kristus, 
By. Marthen Luther 



[1] KKBI,(KOMPLIKASI)
[2] Dyrness,William. 123.

Wednesday, September 26, 2018

Resensi Buku : “Dinamika Pendidikan Kristen”,


Resensi Buku: “Dinamika Pendidikan Kristen”, IRIS V. CULLY, Jakarta: Penerbit BPK Gunung Mulia, Cetakan Pertama, 1985, 173 halaman.
A.    Pendahuluan
Dalam zaman postmodern tentunya banyak sekali hambatan yang mungkin dapat menghalangi cara pandang manusia tentang pentingnya pendidikan. Dikarenakan, dengan adanya teknologi yang semakin canggih membuat segala yang di inginkan serba bisa, walaupun teknologi merupakan sarana dalam berbagai informasi pembelajaran namun sangat di sayangkan apabila kita terkecimpung dalam teknologi dan mengesampingkan pendidikan.
Pendidikan merupakan sarana yang sangat penting dalam mendidik manusia agar dapat mengetahui apa yang belum pernah mereka ketahui, dengan beberapa pola dalam mendidik perlunya kita harus mengetahui tujuan dari pendidikan. Pendidikan sendiri juga mempunyai arti  yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang sesuai prosedur pendidikan itu sendiri.
Dalam buku ini dimana penulis berupaya menjelaskan tentang perkembangan atau pertumbuhan rohani setiap orang Kristen, melalui proses pembelajaran baik itu melalui pendidikan sekolah, Gereja, dan juga Kursus-kursus Alkitab lainnya, dimana dapat menolong orang Kristen dalam menghidupi kehidupan yang berkenan kepada Allah.
Dengan mempelajari buku “Dinamika Pendidikan Kristen” Karya  Iris V. Cully. Memberikan kita pemahaman bahwa pentingnya pendidikan bagi kehidupan kita di zaman yang semakin canggih ini, dengan melihat apakah benar hidup kita sudah berada dalam hidup orang Kristen yang sesungguhnya.  Sangatlah penting untuk melihat akan adanya pendidikan Kristen guna menggenapi tugas dan tanggung jawab yang di berikan oleh Guru Agung kita Yesus Kristus kepada murid-muridnya.

B. Isi Resensi
Pada bagian ini terbagi menjadi 3 bagian utama yang nantinya dapat menggambarkan tentang keberadaan buku yang dibuat yaitu: deskripsi, analisis dan evaluasi isi buku. Berikut akan dipaparkan berkaitan dengan hal tersebut.
1. Deskripsi Buku
Tujuan Penulisan buku ini berangkat dari keprihatinan penulis terhadap beberapa hal diantaranya, dimana ada  masyarakat yang belum memahami betapa pentingnya pendidikan dan menggunakan potensial yang ada pada diri mereka masing-masing sebagai manusia, perlunya kita ketahui bahwa dengan adanya pendidikan dapat menolong kita dalam memahami hal-hal dalam mendidik.
Penulis juga memberikan metode-metode dalam pengajaran yang disertai dengan penggertian dari kata Pendidikan  dan tujuan-tujuan dalam unsur mendidik dalam konteks Alkitabiah, guna memperlengkapi orang Kristen dalam pemahaman akan jalan-jalan Tuhan. Dimana dalam era globalisasi ini tentu banyak sekali hambatan yang terjadi dimana dunia memberikan wacana yang sangat memanjakan manusia sehingga banyak orang Kristen yang telah mengesampingkan kebutuhan rohani dalam diri mereka masing-masing.
Sudut Pandang Buku. Penulis buku mengemukakan pendapatnya tentang Dinamika Pendidikan Kristen berangkat dari sudut pandang education. Sudut pandang education yang dimaksudkan ialah bagaimana cara pandang dan tindakan manusia dalam melaksanakan perintah Tuhan, guna memperbaiki sikap polemik dalam kehidupan orang percaya.
Dasar Berpijak/Acuan Buku. Penulisan buku Dinamika pendidikan Kristen ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengembangkan metode pendidikan Kristen. Karena kelompok belajar agama Kristen berpijak pada kebenaran Alkitab yang dimana menjadi landasan dalam kehidupan orang percaya.
Sasaran Penulisan Buku. Penulis berharap keberadaan buku ini dapat memberikan sebuah pemahaman baru bagi mereka yang membacanya. Secara umum diharapkan buku ini dapat dibaca oleh semua orang Kristen atau guru sekolah Kristiani, guna semua orang percaya agar dapat memahami prinsip-prinsip Alkitabiah tentang pendidikan.
Fokus Bidang Isi buku. Buku ini ditulis, dalam bidang yang berkaitan dengan “Pendidikan Agama Kristen. Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan Pendidikan Agana Kristen dan setiap orang Kristen yang membecanya. Secara khusus orang Kristen dimana mereka berpikir bahwa pentingnya, mendidik orang untuk berjalan dalam Terang Allah sesuai dengan buku pedoman yaitu Alkitab.
Isi Pokok Buku. Penulis dalam menuliskan gagasanya membagi dalam beberapa bagian isi pokok buku yang menghentar pembaca untuk dapat memahami tentang “Dinamika Pendidikan Kristen”. Yaitu : pembaca harus memahami akan pentingnya pendidikan dan juga sekolah, Gereja, konteks pendidikan, pusat proses pendidikan,tujuan pendidikan.
2. Analisis Buku.
Pada bagian analisis buku ini akan dipaparkan tentang keunggulan dan kelemahan buku ditinjau dari isi buku, penyajian buku dan bahasa yang dipergunakan.
a. Analisis Isi Buku
Tujuan penulisan buku dipaparkan cukup baik, walaupun kejelasan belum nampak  dalam pemaparannya. Sasaran yang ingin dicapai sangat baik jelaskan secara oleh penulis. Namun demikian, karena buku ini digunakan sebagai buku panduan dalam memahami proses pendidikan.  Tema buku sangat menarik bahkan menimbulkan sebuah cipta bagi pembaca setelah membaca buku tersebut. Pentingnya buku, buku ini sangat diperlukan bagi umat Kristiani dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Asadapun  kelengkapan Informasi, hal-hal yang disampaikan oleh penulis buku sudah cukup lengkap bahkan membawa pembaca untuk dapat merubah cara berpikir pembaca melalui urutan isi pokok buku.
Kelebihan buku ini dibandingkan dengan buku lain, tentunya berada pada sudut pandang yang dipakai oleh penulis. Dalam hal ini sudut pandang yang sangat baik guna berkelangsungan proses pembelajaran.
Kekurangan isi buku, dalam buku “Dinamika Pendidikan Kristen” ini dalam yang menjadi kekurangan dalam buku ini yaitu Struktur dalam pengkalimatan yang kurang baik, dan ada beberapa yang sangat kontrasm kalau di lihat dari sudut Tema besar dalam penguraian buku ini. Hal ini tentunya mempengaruhi cara pandang dari setiap orang yang mengambil bagian dalam pendidikan.
Latar belakang penulis dalam hal ini penulis tidak memberikan Profil lrngkap dari penulis buku tersebut, atau data diri penulis yang lengkap.
 3. Evaluasi Buku
Setelah membaca buku secara keseluruhan, dalam hal ini saya sebagai pembaca sangat tertarik akan buku ini, dimana berguna dalam kelangsungan hidup ini untuk mendedikasikan waktu  dalam proses belajar mengajar, baik itu dilingkungan gereja atau institusi-institusi Kristen lainnya. “Dinamika Pendidikan Kristen” merupakan buku sangat baik dalam melaksanankan metode-metode pembelajaran.
                                               

C. Penutup
 Pendidikan merupakan langkah penting dalam kehidupan ini karena itu pergunakanlah waktu yang ada, untuk mengikuti metode-metode yang Allah inginkan kita kerjakan dalam kehidupan ini. Pendidikan yang sangat  berharga dalah pendidikan dalam kehidupan sehari-hari dimana sikap dan karakteristik kita dibentuk oleh Guru Agung kita Tuhan Yesus Kristus. Karena itu sebagai orang Kristen agar kita tidak meleset dari pendidikan yang bersifat curang dan tidak ada lagi asas-asas kebenaran di dalamnya maka kita harus mendasarkan diri kita pada dasar Firman Allah yang merupakan dasar hidup orang percaya.



 Tuhan Yesus Memberkati RπŸ˜‡

Monday, September 24, 2018

KARYA TERBESAR

  KARYA TERBESAR

Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal. Yohanes 3:16 (BIS)

.
ayat yang menggambarkan karya terbesar, karya terbesar itu tidak datang dari manusia karena manusia tidak dapat berbuat perkara yang hebat, pemazmur berkata : beserta dengan Allah kami lakukan perkara yang gagah perkasa. Berarti tampa Tuhan ikut campur dalam hidup manusia dia tidak bisa berkarya , dia tidak bisa buat perkara yang spektakuler hanya Allahlah yang menyertainnya, dan karya terbesar menurut bacaan Firman saat ini yaitu Allah mengasihi manusia, Allah mengasihi orang berdosa, saya percaya itulah karya terbesar yang Allah buat bagi kita   sekalian :
  1. kasih yang tidak mengambil untung bagi diri sendiri
  2. kasih yang tidak memanipulir orang lain bagi kepentingan diri 
  3. kasih yang bukan berarti orang lain beri baru saya harus mengasihi kepadanya 
 tetapi kasih tampa persyaratan itulah kasih yang dari Allah : Alkitab berkata pada waktu Allah mengasihi kita dan menyatakan kasihnya pada saat kita berada dalam dosa. Allah mengasihi kita bukan pada waktu kita sedang menyanyi KOR, Allah mengasihi kita bukan pada waktu kita ambil maik dan menyanyikan lagu rohani kepadanya, tetapi Allah mengasihi kita pada waktu kita berada dalam dosa, dan Dia menyatakan kasihnya dan dia menyatakan kasih Allah itu dinyatakan, bukan dengan hadirnya alam semesta ini sebagai sarana penopang kehidupan tapi dihadirkan Yesus Kristus pemberian yang paling tinggi, pemberian yang paling mahal.
Matahari dia berikan pada kita, bayangkanlah hidup tampa hadirnya matahari, hidup tampa hadirnya udara yang segar, bayangkanlah hidup tampa hadirnya alam semesta ini.
Dia yang memberikan hidup, Dia juga yang memberikan sarana untuk menopang hidup itu.
tidak mungkin Allah memberikan telinga tampa memberikan kemampuan untuk mendengar, tidak mungkin Allah memberikan mata tampa memberikan kemampuan untuk melihat, tidak mungkin Dia berikan bahu tampa memberikan kemampuan untuk memikul.
Allah yang dasyat itu yang penuh dengan hikmat dan kebijaksanaa, Dia berikan hidup pada kita dan didalam hidup itu juga Dia berikan sarana untuk menopangnya, sarana untuk mempertahankannya tapi camkanlah semua itu bukan karya terbesar yang Dia berikan pada kita, karya terbesar yang Dia buat menurut yohanes 3:16 adalah di hadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia, disalibkan, mati dikuburkan pada hari ke 3 bangkit dari antara orang mati dan itulah karya terbesar yang Allah buat bagi dunia.
"Apa untungnya kata Tuhan Yesus kamu memiliki seluruh dunia ini tapi kehilangan keselamatan jiwamu,
berarti karya terbesar yang Dia buat bagi kita adalah jiwa kita diselamatkan, dosa kita yang merah seperti kermisi diputihkan seperti salju dan merah seperti kesumbah di putihkan seperti bulu kambing domba, itulah karya terbesar, karya terbesar datang dari atas dan bukan dari bawah, karya terbesar datang dari tangan Allah yang maha kuasa  pencipta langit bumi laut dan segalah isinya yang kita panggil  Bapa dalam Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat. Amin.πŸ™


Bagaimana kita bertumbuh ?

Efesus 4 : 15a.  tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. 

 Allah ingin kita bertumbuh.
Tujuan Bapa Surgawi kita ialah agar kita menjadi dewasa dan mengembangkan karakteristik yang dimiliki Yesus Kristus. Sayangnya, jutaan orang Kristen bertambah tua tetapi  tidak pernah bertumbuh. Mereka tertahan sebagai bayi rohani yang terus-menerus, tetap dalam pakaian dan sepatu bayi. Sebabnya adalah karena mereka tidak berkeinginan untuk bertumbuh.
Pertumbuhan rohani tidaklah otomatis. Dibutuhkan komitmen yang terencana. Kita harus mau bertumbuh, memutuskan untuk bertumbuh, dan melakukan upaya untuk bertumbuh, serta terus bertumbuh dalam pertumbuhan. Pemuridan, yaitu proses menjadi serupa dengan Kristus, selalu dimulai dengan sesuatu keputusan. Yesus Memanggil kita, dan kita menanggapi : "Ia berkata kepadanya: Ikutlah Aku. Maka berdirilah Matius lalu mengikuti dia."
pada saat murid-murid pertama memilih untuk mengikuti Yesus, mereka tidak memahami semua implikasi dari keputusan mereka. Mereka hanya menanggapi undangan Yesus. Itulah saja yang kita butuhkan untuk memulai: putuskan untuk menjadi seorang murid. yang paling kuat membentuk kehidupan kita adalah komitmen-komitmen yang kita buat atau menghancurkan kita, tetapi bagaimanapun, komitmen kita akan menemukan keadaan kita.
(Sekian, Edisi Pertama)

Tuhan Yesus Memberkati πŸ˜‡mber

STUDY

SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTEN

SPIRITUALITAS PEMIMPIN KRISTE N Pemimpin adalah seorang yang mengepalai seorang dan tentunya seorang yang bekerja keras dalam mengel...

SMARTH